SEMARANG – Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Islam Digital dan Humaniora: Media Baru dan Metode Baru dalam Kajian Ushuluddin Transdisipliner” pada Rabu (14/10/2026). Bertempat di Aula Q Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, kegiatan ini membahas perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta peluang pemanfaatannya dalam pengembangan kajian keislaman dan humaniora.

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Dr. Mokh. Sya’roni, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan bahwa perkembangan Islam digital dan humaniora menjadi isu penting dalam pengembangan metode penelitian Ushuluddin yang bersifat transdisipliner. Oleh karena itu, kajian mengenai hubungan teknologi digital dan keilmuan keislaman perlu terus dikembangkan melalui forum akademik, salah satunya seminar nasional ini.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–12.00 WIB tersebut dihadiri oleh Dekan, para Wakil Dekan, kepala dan sekretaris jurusan, kepala laboratorium, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa di lingkungan FUHUM UIN Walisongo Semarang.
Seminar dimoderatori oleh Aulia Rakhmat, M.A. Dalam pengantarnya, moderator menyoroti pesatnya perkembangan AI yang menuntut kalangan akademisi untuk memikirkan kembali bagaimana teknologi tersebut dapat mendukung perkembangan keilmuan Ushuluddin dan Humaniora.
Narasumber pertama, Bhirawa Anoraga, Ph.D., dosen Digital Islam Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), memaparkan hubungan antara Islamic Studies dan teknologi masa depan. Ia menyoroti bagaimana perkembangan AI membuka peluang baru untuk mengeksplorasi berbagai persoalan keislaman melalui pendekatan dan metode penelitian yang tersedia.
Dalam paparannya, Bhirawa juga menyampaikan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga dalam penggunaan AI di bidang keagamaan. Ia menjelaskan bahwa teknologi dan agama memiliki hubungan yang saling memengaruhi. AI dapat dimanfaatkan untuk menguji asumsi-asumsi keislaman, termasuk menelaah kecenderungan penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam berbagai mazhab serta mengeksplorasi persoalan keimanan, keberagamaan, dan kecerdasan.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya peran manusia dalam menentukan arah perkembangan AI. Teknologi harus ditempatkan sebagai sarana pendukung pengembangan ilmu pengetahuan, bukan sebagai kekuatan yang mengendalikan manusia.

Materi berikutnya disampaikan oleh Misbah Khoirudin Zuhri, Ph.D., dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang sekaligus alumni program doktor Universitas Islam Internasional Indonesia. Ia membahas pemanfaatan AI dalam kajian tafsir, khususnya penafsiran ayat tentang poligami dan perilaku adil. Paparan tersebut juga mencakup kajian mengenai kepemimpinan, nafkah, dan perempuan melalui pemanfaatan AI, termasuk praktik tafsir graph sebagai pendekatan untuk mengeksplorasi keterkaitan dalam kajian tafsir.
Penyampaian materi dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk mendalami isu-isu yang dibahas oleh para narasumber.
Melalui seminar nasional ini, FUHUM UIN Walisongo Semarang menempatkan perkembangan teknologi digital sebagai salah satu isu penting dalam pengembangan kajian Ushuluddin dan Humaniora. Pemanfaatan AI membuka peluang bagi eksplorasi metode penelitian baru, sekaligus menegaskan pentingnya peran kritis manusia dalam menjaga arah pengembangan ilmu pengetahuan dan kajian keislaman.






