SEMARANG – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHum) UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan Seminar Nasional dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-36 Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir pada Rabu, 21 Oktober 2026. Kegiatan bertema “Menelusuri Khazanah Tafsir Nusantara dan Relevansinya di Era Kontemporer” ini berlangsung di Teater Rektorat Lantai 4, Kampus II UIN Walisongo Semarang.
Seminar nasional ini menjadi ruang akademik untuk memperkenalkan kekayaan tradisi penafsiran Al-Qur’an di Indonesia sekaligus mendiskusikan relevansinya bagi kehidupan masyarakat kontemporer. Tafsir Nusantara merupakan bagian penting dari sejarah intelektual Islam yang memperlihatkan dialog antara pemahaman terhadap Al-Qur’an, tradisi keilmuan ulama, bahasa, dan kebudayaan lokal.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Zainal Arifin Madzkur, M.A. dan Prof. Dr. Akhmad Arif Junaidi, M.Ag. Keduanya diharapkan dapat memperkaya perspektif peserta mengenai perkembangan tafsir di Nusantara, karakteristik karya-karya tafsir ulama Indonesia, serta peluang pengembangan kajian tafsir untuk menjawab tantangan keagamaan dan sosial pada era kontemporer.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta sambutan dari Ketua HMJ IAT dan Ketua Program Studi IAT sekaligus membuka acara. Acara kemudian dilanjutkan dengan seremoni peringatan Harlah dan Mahallul Qiyam yang melibatkan UKM JHQ. Setelah itu, kegiatan memasuki sesi utama berupa penyampaian materi oleh kedua narasumber dan diskusi.

Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Dr. Muhammad Kudhori, M.Th.I., dalam sambutannya menekankan pentingnya kajian tafsir Nusantara bagi pengembangan studi Al-Qur’an yang kontekstual dan responsif terhadap perkembangan zaman.
“Khazanah tafsir Nusantara merupakan warisan intelektual yang sangat berharga. Karya-karya para ulama Nusantara tidak hanya menunjukkan kedalaman pemahaman terhadap Al-Qur’an, tetapi juga menggambarkan kemampuan mereka dalam mendialogkan pesan-pesan Al-Qur’an dengan realitas sosial dan budaya masyarakat. Generasi muda perlu mengenali, mengkaji, dan mengembangkan warisan keilmuan tersebut agar tetap relevan dengan tantangan kehidupan kontemporer,” terang Ketua Program Studi IAT.

Dr. Zainal Arifin Madzkur, M.A., sebagai salah satu narasumber, menyoroti pentingnya menelusuri karya-karya tafsir Nusantara sebagai sumber pengetahuan untuk memahami perkembangan periodesasi tradisi penafsiran Al-Qur’an di Indonesia.
“Khazanah tafsir Nusantara memperlihatkan kekayaan pemikiran para ulama dalam memahami dan menjelaskan pesan-pesan Al-Qur’an. Penelusuran terhadap karya-karya tersebut penting dilakukan agar generasi sekarang tidak hanya mengenal Al-Qur’an melalui kajian kontemporer, tetapi juga memahami kesinambungan tradisi keilmuan yang telah berkembang di Nusantara,” terangnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Akhmad Arif Junaidi, M.Ag., sebagai narasumber kedua, dapat menekankan relevansi kajian tafsir Nusantara dalam pengembangan keilmuan Islam dan kehidupan masyarakat masa kini dengan mencari fokus penelitian yang belum pernah diteliti agar ditemukan hal baru.
“Penelitian terhadap khazanah tafsir Nusantara perlu diarahkan pada aspek-aspek yang belum banyak dikaji atau belum pernah diteliti sebelumnya. Melalui penelusuran yang mendalam dan kritis, peneliti diharapkan mampu menemukan kebaruan (novelty), baik dari segi objek kajian, pendekatan, metodologi, maupun perspektif analisis. Dengan demikian, penelitian tidak sekadar mengulang temuan terdahulu, tetapi menghasilkan kontribusi ilmiah baru bagi pengembangan studi Al-Qur’an dan Tafsir,” ujarnya.

Peringatan Harlah ke-36 ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dalam mengembangkan kajian Al-Qur’an serta tradisi intelektual Islam. Momentum tersebut juga diharapkan dapat memperkuat komitmen sivitas akademika untuk menjaga kesinambungan tradisi keilmuan sekaligus membuka ruang bagi lahirnya pendekatan dan penelitian baru dalam studi tafsir.
Melalui seminar nasional ini, HMJ IAT UIN Walisongo Semarang berharap mahasiswa semakin terdorong untuk mengkaji literatur tafsir Nusantara secara kritis, kontekstual, dan berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat budaya akademik mahasiswa serta mendorong lahirnya generasi yang mampu menghubungkan warisan intelektual ulama terdahulu dengan perkembangan studi Al-Qur’an dan Tafsir di era kontemporer.






