Denpasar, Bali– Prodi Studi Agama-Agama (SAA) dan Prodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Fakultas Ilmu Agama, Seni, dan Budaya Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Bali pada 4 Juni 2026 di Aula Taman Asoka UNHI. Kegiatan kuliah lapangan ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan yang bertujuan memperluas wawasan mahasiswa mengenai relasi agama, budaya, dan lingkungan hidup melalui perspektif ekoteologi Bali.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mendapatkan pemaparan materi dari I Gde Jayakumara, SS., M.A. dosen Program Studi Ilmu Filsafat Hindu UNHI, yang menjelaskan berbagai persoalan lingkungan kontemporer seperti banjir, kerusakan ekosistem, dan persoalan sampah yang terjadi di berbagai daerah, termasuk Bali. Berangkat dari berbagai persoalan tersebut, narasumber mengajak peserta untuk merefleksikan kembali peran agama dalam membangun kesadaran ekologis dan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan. Menurut I Gde Jayakumara, agama tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memberikan seperangkat nilai dan etika dalam mengelola alam semesta.
Materi yang disampaikan menekankan bahwa masyarakat Bali memiliki warisan kearifan lokal yang kaya dalam menjaga keseimbangan alam. Salah satu konsep utama yang dibahas adalah Tri Hita Karana, yaitu ajaran tentang keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam lingkungan (palemahan). Konsep ini menjadi fondasi penting dalam kehidupan masyarakat Bali dan berkontribusi pada pembentukan etika ekologis yang berorientasi pada keseimbangan dan keberlanjutan.
Selain itu, ia juga diperkenalkan pada pendekatan antropologis dalam memahami tata kelola lingkungan di Bali. Melalui konsep-konsep kosmologi Hindu Bali seperti Dewata Nawa Sanga, orientasi ruang kaja-kelod dan kangin-kauh, serta pengaturan ruang tradisional dalam kehidupan masyarakat, peserta diajak memahami bahwa alam dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan spiritual dan sosial masyarakat. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan bukan sekadar kebutuhan praktis, melainkan juga merupakan bagian dari tanggung jawab religius.
Dalam sesi diskusi, narasumber juga menjelaskan pendekatan filosofis terhadap ekoteologi dengan mengaitkan pemikiran filsuf Martin Heidegger mengenai relasi manusia dan alam. Pemikiran tersebut menekankan pentingnya sikap “berdiam” dan hidup secara autentik di bumi melalui penghormatan terhadap alam, keterbukaan terhadap kehidupan, dan kesadaran akan keterhubungan seluruh unsur keberadaan. Perspektif ini memberikan pemahaman bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak hanya disebabkan oleh persoalan teknis, tetapi juga oleh krisis cara pandang manusia terhadap alam.
Kegiatan KKL ini berlangsung secara interaktif dengan diskusi dan tanya jawab yang melibatkan mahasiswa dari kedua program studi. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman akademik yang berharga untuk memahami bagaimana nilai-nilai agama dan budaya dapat berkontribusi dalam menjawab tantangan krisis ekologis yang semakin kompleks. Pendekatan ekoteologi yang berkembang di Bali menjadi contoh nyata bagaimana ajaran keagamaan dapat berfungsi sebagai sumber etika lingkungan sekaligus inspirasi bagi gerakan pelestarian alam.

Perwakilan rombongan KKL, yang disampaikan oleh Kaprodi Studi Agama-Agama, Dr. Ulin Ni’am Masruri, M.A., ia menyampaikan bahwa kunjungan akademik ini diharapkan mampu memperkaya perspektif mahasiswa dalam mengkaji isu-isu keagamaan kontemporer. Tidak hanya memahami agama sebagai sistem keyakinan, mahasiswa juga diajak melihat bagaimana nilai-nilai spiritual dapat diwujudkan dalam praktik sosial dan ekologis yang konkret. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi bagian penting dalam membentuk generasi akademisi yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan serta mampu mengembangkan dialog antara agama, budaya, dan isu-isu kemanusiaan global.
Melalui KKL di Fakultas Ilmu Agama, Seni, dan Budaya UNHI Bali, mahasiswa Prodi SAA dan AFI diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya ekoteologi sebagai pendekatan yang mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis. Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen akademik kedua program studi dalam mengembangkan kajian agama yang responsif terhadap tantangan lingkungan hidup di era modern.







