Semarang – Program Studi Ilmu Seni dan Arsitektur Islam (ISAI), Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM), UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan International Guest Lecturer bertema “Islamic Architecture” pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung Q, Kampus 2 UIN Walisongo Semarang, mulai pukul 13.00 WIB ini menghadirkan Prof. Ts. Dr. Nangkula Utaberta, profesor arsitektur dari School of Architecture and Built Environment, UCSI University, Malaysia.
Kegiatan diawali dengan sambutan pimpinan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora yang diwakili oleh Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, H. Sukendar, M.A., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya proses internasionalisasi dalam pengembangan wawasan akademik dan penguatan keilmuan di lingkungan fakultas. Menurutnya, kegiatan kuliah tamu berskala internasional menjadi salah satu sarana strategis untuk memperluas perspektif keilmuan sekaligus membangun jejaring akademik dengan perguruan tinggi luar negeri. Tema arsitektur Islam yang diangkat juga dinilai relevan dengan karakter keilmuan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora yang mengintegrasikan kajian nilai-nilai keislaman, seni, budaya, dan kemanusiaan.
Memasuki sesi utama, Prof. Nangkula Utaberta menyampaikan materi berjudul “Islamic Architecture: Between Value and Object Centered Design Approaches.” Dalam paparannya, beliau mengajak peserta untuk meninjau kembali pemahaman mengenai arsitektur Islam yang selama ini kerap diidentikkan dengan bentuk fisik tertentu, seperti kubah, menara, lengkungan, ornamen geometris, maupun bangunan monumental. Menurut pendekatan yang dikemukakannya, identitas arsitektur Islam tidak semestinya hanya ditentukan oleh tampilan visual bangunan, melainkan juga oleh nilai-nilai Islam yang mendasari proses perancangan dan pemanfaatan ruang.
Lebih lanjut, Prof. Nangkula menjelaskan perbedaan antara pendekatan object-centered yang menitikberatkan pada bentuk dan ekspresi fisik bangunan dengan pendekatan value-centered yang mengutamakan nilai spiritual, sosial, kemanusiaan, dan lingkungan. Melalui berbagai contoh sejarah dan perkembangan arsitektur masjid di sejumlah wilayah dunia, termasuk Nusantara, beliau menunjukkan bahwa arsitektur Islam memiliki keragaman ekspresi yang dipengaruhi oleh budaya, iklim, teknologi, dan kondisi masyarakat setempat. Dengan demikian, arsitektur Islam tidak harus terikat pada satu gaya atau tipologi bangunan tertentu.
Salah satu gagasan penting dalam materi tersebut adalah perlunya merekonstruksi pemahaman tentang arsitektur masjid berdasarkan nilai-nilai yang dicontohkan dalam kehidupan Rasulullah SAW. Prof. Nangkula menguraikan sejumlah prinsip mendasar, antara lain kesadaran terhadap kebesaran Tuhan, penguatan ibadah dan kepedulian sosial, kesederhanaan, kesejahteraan masyarakat, toleransi budaya, keberlanjutan lingkungan, serta tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Dalam konteks ini, masjid tidak hanya dipahami sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial yang terbuka, mudah diakses, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Beliau juga menekankan bahwa perancangan arsitektur Islam perlu memperhatikan hubungan harmonis antara manusia, bangunan, dan alam. Penggunaan material alami, pemanfaatan pencahayaan serta penghawaan alami, dan sikap tidak berlebihan dalam membangun merupakan beberapa penerapan nilai Islam dalam arsitektur. Pendekatan tersebut sekaligus menawarkan pemahaman bahwa kualitas arsitektur tidak semata-mata diukur dari kemegahan bangunan, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan ruang yang manusiawi, inklusif, dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan International Guest Lecturer ini, Program Studi Ilmu Seni dan Arsitektur Islam UIN Walisongo Semarang berupaya memperluas wawasan akademik mengenai hubungan antara nilai-nilai keislaman dan praktik perancangan arsitektur kontemporer. Gagasan yang disampaikan Prof. Nangkula diharapkan dapat menjadi referensi bagi mahasiswa dan dosen dalam mengembangkan pendekatan desain yang tidak hanya berorientasi pada estetika, tetapi juga memperhatikan dimensi filosofis, sosial, budaya, dan lingkungan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya penguatan atmosfer akademik internasional dan pengembangan keilmuan seni serta arsitektur Islam di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang.






