Oleh: Rita Andria Ismawati
Jombang,– Sebanyak 31 mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang mengikuti program Student Mobility di Ribath Hidayatul Qur’an Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Kegiatan berlangsung selama lima hari, Senin–Jum’at, 7–11 September 2026 dan didampingi langsung oleh Kaprodi dan Sekprodi S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Kegiatan ini dimulai setelah agenda pembukaan dan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara FUHUM UIN Walisongo dan Ribath Hidayatul Qur’an.
Selama kegiatan, mahasiswa belajar secara intensif bersama Pengasuh Ribath Hidayatul Qur’an, Dr. KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi, Lc., M.A. atau Gus Awis. Para peserta mengikuti kajian, menyimak materi, berdiskusi, serta menghatamkan kitab Mabāḥits fī ‘Ulūmil Qur’ān karya Gus Awis.
Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang berbeda bagi mahasiswa. Tidak hanya menambah wawasan tentang Ulumul Qur’an, suasana pesantren juga memberikan pengalaman baru yang membuka perspektif mahasiswa dalam melihat tradisi keilmuan Islam secara lebih dekat.
Salah satu materi yang mendapatkan perhatian mahasiswa adalah pembahasan i‘rāb sebagai salah satu metode dalam memahami makna Al-Qur’an. Dari kajian tersebut, mahasiswa mendapatkan pemahaman bahwa penggalian makna ayat juga membutuhkan perhatian terhadap struktur dan kedudukan setiap kata.
“Banyak hal baru yang kami dapatkan. Bukan hanya ilmu, tetapi juga pengalaman dan suasana belajar yang berbeda. Kami bisa melihat secara langsung bagaimana keilmuan Al-Qur’an terus dikembangkan,” ungkap Liswa, salah satu peserta.
Hanik, peserta lainnya, menilai kegiatan tersebut memberikan tambahan wawasan yang relevan dengan kebutuhan akademik mahasiswa. “Kajian ini membuka wawasan baru dan memberikan banyak inspirasi yang bisa dikembangkan untuk penelitian, tugas akhir, maupun penulisan artikel,” tuturnya.
Selain materi keilmuan, mahasiswa juga mendapatkan inspirasi dari produktivitas Gus Awis sebagai kiai sekaligus akademisi. Di tengah kesibukan mengelola pesantren dan menjalankan aktivitas akademik, Gus Awis tetap produktif menulis dan menghasilkan karya di bidang tafsir dan Ulumul Qur’an. Hal ini menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung praktik keilmuan yang produktif.
Pada kegiatan ini juga dilaksanakan ijazahan Kitab bersama Gus Awis. Dalam pesannya, Gus Awis mengingatkan bahwa usaha manusia dalam memahami Al-Qur’an dapat diarahkan kepada kebenaran oleh Allah, tetapi manusia juga berpotensi melakukan kekeliruan.
“Manusia harus terus mencari kebenaran Al-Qur’an dan berkhidmah kepada Al-Qur’an sebaik mungkin, agar apa yang kita hasilkan dan kita usahakan mendekati kebenaran. Pertolongan untuk menuju kebaikan hanya dari Allah,” pesannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pengulangan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Menurutnya, untuk mendapatkan keberkahan dan kedekatan dengan Al-Qur’an, proses belajar membutuhkan kesungguhan, tirakat, dan ketekunan.
Kesan mendalam juga disampaikan Julia Dwi Maharani dan Muhammad Yusuf Pratama. Menurut mereka, waktu tiga hari terasa singkat, tetapi materi dan pengalaman yang diperoleh sangat berharga sebagai bekal akademik, termasuk untuk pengembangan tesis dan artikel.
Sementara itu, Kaprodi S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir FUHUM UIN Walisongo, Dr. Ahmad Tajuddin Arafat, M.S.I., menyampaikan terima kasih atas penerimaan dan bimbingan selama kegiatan sekaligus memohon maaf atas berbagai kekurangan.
Ia berharap program tersebut menjadi awal dari hubungan keilmuan yang lebih erat. “Semoga kerja sama ini menjadi al-bidāyah, menjadi awal untuk terus belajar, berkembang, dan menjadi bagian dari keluarga besar Hidayatul Qur’an,” ujarnya.
Program Student Mobility ini diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman belajar selama lima hari saja, namun menjadi momentum untuk membangun tradisi keilmuan, memperkuat kecintaan kepada Al-Qur’an, serta mendorong mahasiswa menghasilkan karya akademik yang bermanfaat bagi masyarakat.






