SEMARANG – Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHum), UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan Studium Generale bertajuk “Otoritas Teks Al-Qur’an di Era Digital: Tantangan Autentisitas Mushaf dan Literasi Qur’ani Generasi Z”, Kamis (29/10/2026). Kegiatan berlangsung di Aula Gedung Q FUHum UIN Walisongo Semarang dengan menghadirkan Dr. Fahrur Rozi, M.A., Pentashih Mushaf Al-Qur’an Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama RI sekaligus penulis kitab Al-Muyassar fi al-Qira’at as-Sab’: fi Bayani Wujuh al-Qira’ati wa Kaifiyyatu Jam’iha Bain al-Qurra’, sebagai narasumber.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai ruang penguatan wawasan akademik mahasiswa mengenai sejarah pemeliharaan Al-Qur’an, autentisitas teks mushaf, perkembangan ilmu qira’at, serta tantangan menjaga otoritas teks Al-Qur’an di tengah perkembangan teknologi digital. Tema tersebut dinilai relevan dengan dinamika masyarakat digital, khususnya Generasi Z yang semakin mudah mengakses berbagai sumber informasi keislaman melalui platform digital.

Dalam sambutan pembukaan, Sekretaris Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Dr. Winarto, M.S.I., yang mewakili Ketua Program Studi IAT, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada narasumber atas kesediaannya berbagi pengetahuan dan pengalaman akademik kepada mahasiswa. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Dr. Fahrur Rozi, M.A., yang telah berkenan hadir untuk memberikan materi dan berbagi pengalaman keilmuan kepada mahasiswa. Kami berharap kegiatan Studium Generale ini tidak hanya menambah wawasan dan memperkuat kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, baik dalam bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. Secara khusus, kami berharap kegiatan ini dapat memperkaya khazanah keilmuan mahasiswa dalam bidang ilmu qira’at, memperkuat pemahaman tentang keragaman bacaan Al-Qur’an, serta mendorong lahirnya penelitian dan pengembangan kajian qira’at yang lebih mendalam, kritis, dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu Al-Qur’an dan tafsir,” ungkapnya.

Sementara itu, sambutan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora yang diwakili Wakil Dekan I, Prof. Dr. Moh. Nor Ichwan, M.Ag., menekankan pentingnya sikap kehati-hatian dan ketelitian dalam mengakses, membaca, serta mengutip berbagai sumber keilmuan, khususnya naskah yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan tafsir. Menurutnya, perkembangan teknologi digital memberikan kemudahan dalam memperoleh literatur, tetapi kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan melakukan verifikasi terhadap sumber dan validitas informasi.
“Mahasiswa harus memiliki sikap hati-hati dan kritis ketika mengutip suatu naskah, terlebih naskah yang berkaitan dengan ilmu Al-Qur’an dan tafsir. Setiap sumber perlu diperiksa kembali, baik dari segi keaslian teks, ketepatan penulisan, konteks, maupun otoritas keilmuannya. Jangan sampai kemudahan teknologi membuat kita mengutip informasi secara tergesa-gesa tanpa melakukan pengecekan terhadap sumber aslinya,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Dr. Fahrur Rozi menjelaskan bahwa autentisitas Al-Qur’an memiliki landasan historis dan keilmuan yang kuat melalui proses pemeliharaan, baik melalui hafalan maupun tulisan. Jaminan pemeliharaan Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hijr [15]: 9 diwujudkan melalui tradisi hafalan para penghafal Al-Qur’an dan dokumentasi tertulis yang telah berlangsung sejak masa Rasulullah saw.
Narasumber juga menguraikan proses kodifikasi Al-Qur’an pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq dan Khalifah Utsman bin Affan. Pada masa Abu Bakar, pengumpulan Al-Qur’an dilakukan oleh Zaid bin Tsabit dengan mengombinasikan hafalan dan catatan tertulis yang diverifikasi melalui kesaksian. Sementara itu, kodifikasi pada masa Utsman bin Affan menghasilkan standardisasi mushaf yang kemudian dikenal sebagai Rasm Utsmani.
Menjelaskan prinsip autentisitas bacaan Al-Qur’an, Dr. Fahrur Rozi menegaskan bahwa suatu bacaan qira’at harus memenuhi tiga kriteria utama, yakni sesuai dengan kaidah bahasa Arab, sesuai dengan Rasm Utsmani, serta memiliki sanad yang sahih dan mutawatir. Sebagaimana tercantum dalam materi presentasinya, “Bacaan Al-Qur’an harus diriwayatkan oleh jaringan perawi yang tepercaya (tsiqah), bersambung langsung hingga Rasulullah SAW.” Prinsip tersebut menunjukkan bahwa otoritas bacaan Al-Qur’an tidak dapat dilepaskan dari tradisi transmisi keilmuan yang memiliki dasar periwayatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Lebih lanjut, narasumber menjelaskan bahwa keragaman qira’at Al-Qur’an telah dikenal sejak masa Rasulullah saw. dan menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam. Ia memaparkan perkembangan qira’at melalui kontribusi para ulama, seperti Ibnu Mujahid, Abu Amr ad-Dani, Asy-Syathibi, dan Ibnu al-Jazari. Penjelasan tersebut memberikan pemahaman kepada mahasiswa bahwa studi Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan pembacaan teks, tetapi juga mencakup sejarah transmisi, sanad, kaidah bahasa, serta disiplin ilmu qira’at.
Pembahasan juga diarahkan pada tantangan autentisitas mushaf di era digital. Narasumber memperkenalkan peran Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) dalam menjaga ketepatan teks mushaf melalui proses pentashihan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 44 Tahun 2016 tentang Penerbitan, Pentashihan, dan Peredaran Mushaf Al-Qur’an. Selain itu, peserta diperkenalkan dengan sejumlah produk digital LPMQ, seperti Font LPMQ Isep Misbah, Qur’an in Word, Qur’an in PowerPoint, Aplikasi Qur’an Kemenag, dan Pustaka Lajnah.
Melalui materi tersebut, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa digitalisasi Al-Qur’an harus disertai tanggung jawab ilmiah dalam memastikan keakuratan teks dan sumber rujukan. Kemampuan literasi digital tidak cukup hanya dengan keterampilan mengakses informasi, tetapi juga harus didukung kemampuan memverifikasi, memahami, dan menggunakan sumber keislaman secara tepat.

Kegiatan Studium Generale ini menjadi salah satu upaya Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir FUHum UIN Walisongo Semarang dalam memperkuat kompetensi akademik mahasiswa sekaligus menghubungkan pembelajaran di ruang perkuliahan dengan perkembangan kajian Al-Qur’an kontemporer. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan semakin kritis, teliti, dan bertanggung jawab dalam mengembangkan kajian Al-Qur’an dan tafsir, terutama dalam menghadapi tantangan otoritas teks dan literasi Qur’ani di era digital.






