Semarang, 4 November 2026. Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang menggelar Focus Group Discussion (FGD) tentang tema tugas akhir mahasiswa pada Rabu (4/11/2026). Dosen AFI dan pimpinan fakultas berkumpul di ruang sidang FUHUM dari pukul 08.30 hingga 12.00 WIB untuk menjawab satu pertanyaan: tema skripsi seperti apa yang masih berada dalam wilayah keilmuan AFI?

Prodi AFI mengundang Dr. Imam Iqbal, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga Wakil Ketua Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (ASAFI), sebagai narasumber. Ia membawakan materi berjudul “Reformulasi Cluster Tema dan Evaluasi Materi Tugas Akhir Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam”.
Sebelum datang ke Semarang, Imam Iqbal lebih dulu menelusuri 262 tugas akhir mahasiswa AFI UIN Walisongo yang tersimpan di Walisongo Repository dan katalog perpustakaan kampus selama 2021 hingga 2025. Dari data itu ia menemukan filsafat budaya dan filsafat etika sebagai bidang yang paling banyak dipilih mahasiswa. Judul seperti makna sakral ruwatan rambut gimbal, nilai filosofis tradisi nyorog Betawi, atau etika Al-Ghazali tentang euthanasia muncul berulang kali. Epistemologi dan filsafat ilmu masih jarang disentuh, sedangkan kajian tentang teknologi, media sosial, dan budaya populer mulai tumbuh.

Imam Iqbal menilai mahasiswa AFI sudah punya tema yang beragam. Menurutnya, pekerjaan rumah prodi ada pada kedalaman penalaran filosofis, karena banyak penelitian berhenti pada identifikasi makna simbolik dan nilai budaya. Ia memberi contoh: skripsi tentang makna tradisi sedekah laut bisa naik kelas jika mahasiswa bertanya apakah konsep sakralitas dalam tradisi itu mengandung asumsi metafisis tertentu. Ia juga mencatat persoalan klasik ilmu kalam, seperti keadilan Tuhan dan problem kejahatan, kebebasan manusia, serta relasi akal dan wahyu, belum banyak digarap mahasiswa.
Diskusi kemudian bergeser ke tren skripsi yang meneliti film, novel, dan anime, yang kini juga marak di prodi AFI kampus lain seperti UIN Sunan Kalijaga, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan UIN Antasari Banjarmasin. Imam Iqbal tidak menutup pintu bagi objek semacam itu. Ia hanya meminta mahasiswa berangkat dari problem filosofis, memakai kerangka konsep yang relevan, dan menghasilkan kesimpulan filosofis, bukan sekadar mengurai alur cerita atau pesan moral.
“Objek penelitian tidak menentukan identitas keilmuan. Pertanyaan dan cara menganalisis objek itulah yang menentukan,” kata Imam Iqbal.
Sebagai tawaran, ia memetakan tugas akhir AFI dalam tiga lapisan. Lapisan pertama berisi kajian inti seperti aqidah, teologi, ontologi, epistemologi, etika, dan filsafat manusia. Lapisan kedua mempertemukan filsafat dengan psikologi, sains, budaya, dan politik. Lapisan ketiga membawa filsafat ke persoalan terapan, mulai dari lingkungan, kesehatan mental, demokrasi, hingga media digital. Ia juga mengusulkan dosen menimbang proposal skripsi dari empat sisi: objek kajian, persoalan filosofis yang diangkat, jenis penalaran yang dipakai, dan luaran akademik yang dihasilkan.
Dekan FUHUM, Dr. Mokh. Sya’roni, M.Ag., yang hadir sejak awal, meminta forum serupa digelar di prodi lain. “Kegiatan seperti ini penting. Prodi-prodi lain di FUHUM juga perlu melakukannya, supaya kita tahu apa yang sebenarnya ditulis mahasiswa dan ke mana arah keilmuannya,” ujarnya.
Sya’roni juga menyampaikan catatan dari pengalamannya sendiri. “Banyak skripsi zaman sekarang itu tidak jauh beda dengan skripsi zaman saya mahasiswa dulu,” katanya. Ia berharap peta tema yang lebih segar dapat mendorong mahasiswa berani mengangkat persoalan baru.
Bagi dosen AFI, FGD ini memberi bekal untuk membimbing mahasiswa sejak tahap pengajuan judul. Dengan ukuran yang sama, dosen pembimbing dapat menilai apakah sebuah proposal sudah memiliki pertanyaan filosofis yang kuat, dan mahasiswa mendapat arahan yang jelas sebelum mulai menulis.






