Semarang – Program Studi Ilmu Seni dan Arsitektur Islam (ISAI), Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM), UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan praktikum bertema “Optimalisasi AI dalam Proses Post-Production Arsitektur” pada Rabu, 4 November 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang E7–E8, Kampus 2 UIN Walisongo Semarang, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini menghadirkan Gustav Anandita, S.T., M.T., dosen arsitektur Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, sebagai narasumber.

Kegiatan diawali dengan sambutan pimpinan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora yang diwakili oleh Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, H. Sukendar, M.A., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kegiatan praktikum sebagai sarana pengembangan wawasan dan keterampilan mahasiswa dalam menghadapi kemajuan teknologi yang semakin pesat. Menurutnya, penguasaan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), menjadi salah satu kompetensi yang perlu dikembangkan mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia akademik maupun profesional. Namun demikian, pemanfaatan teknologi tersebut harus tetap berlandaskan nilai-nilai keilmuan, etika, dan kemanusiaan yang menjadi karakter Fakultas Ushuluddin dan Humaniora. Pada akhir sambutannya, beliau secara simbolis membuka kegiatan praktikum.

Acara dilanjutkan dengan pengantar dari moderator, Miftahul Khairi, M.Sn., yang menjelaskan relevansi tema praktikum dengan kebutuhan pembelajaran mahasiswa ISAI. Menurutnya, perkembangan teknologi AI telah membuka peluang baru dalam proses perancangan dan penyajian karya arsitektur, termasuk dalam kegiatan studio perancangan dan penyusunan tugas akhir mahasiswa. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pemanfaatan AI menjadi penting agar mahasiswa tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga dapat menggunakannya secara tepat untuk mendukung proses kreatif dan komunikasi desain.
Memasuki sesi utama, Gustav Anandita menyampaikan materi bertajuk “AI Integrated Architectural Design: Dari Brief, Ruang, Bentuk, hingga Narasi.” Materi ini memperkenalkan pendekatan integrasi kecerdasan buatan dalam alur kerja perancangan arsitektur, mulai dari penyusunan gagasan, pengembangan organisasi ruang, eksplorasi bentuk bangunan, hingga visualisasi dan penyampaian narasi desain. Melalui pendekatan praktis, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan sejumlah platform AI, seperti ChatGPT, Gemini, dan perangkat AI generatif lainnya untuk mendukung berbagai tahapan pekerjaan arsitektural.
Salah satu pembahasan utama adalah teknik penyusunan prompt atau instruksi yang terstruktur agar AI mampu menghasilkan visualisasi sesuai kebutuhan desain. Narasumber menjelaskan bahwa informasi mengenai tipologi bangunan, struktur dan material, konteks lingkungan, atmosfer pencahayaan, serta gaya arsitektur perlu dirumuskan secara jelas. Dalam tahap berikutnya, peserta diperkenalkan pada proses penerjemahan bubble diagram menjadi denah arsitektural menggunakan AI, sekaligus melakukan modifikasi berdasarkan batasan tapak, kebutuhan ruang, akses, dan proporsi bangunan. Pendekatan ini menekankan bahwa logika spasial tetap ditentukan oleh manusia, sementara AI berperan sebagai perangkat bantu dalam menerjemahkan dan mengembangkan gagasan menjadi representasi visual.

Materi juga membahas proses eksplorasi bentuk arsitektur melalui penggabungan prinsip desain tradisional dengan pendekatan kontemporer. Salah satu contoh yang ditampilkan adalah pengembangan desain bangunan dengan mengadaptasi karakter arsitektur Tongkonan ke dalam bentuk bangunan modern. Selain itu, narasumber memperkenalkan teknik pembuatan visualisasi fotorealistis, penyusunan aset visual bangunan dari berbagai sudut pandang, hingga pengembangan narasi desain melalui karakter, latar lingkungan, pengaturan sudut kamera, dan visualisasi berbasis video. Tahapan tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk menghasilkan gambar arsitektur, tetapi juga untuk menyampaikan pengalaman ruang dan cerita desain secara lebih komunikatif.

Melalui kegiatan praktikum ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman dan keterampilan baru dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses perancangan dan post-production arsitektur. Pemanfaatan teknologi tersebut tetap memerlukan kemampuan berpikir kritis, pemahaman prinsip arsitektur, serta ketelitian dalam mengevaluasi hasil yang dihasilkan oleh AI. Dengan demikian, AI diposisikan sebagai alat pendukung kreativitas dan produktivitas, bukan sebagai pengganti peran perancang dalam menentukan kualitas dan ketepatan suatu desain.

Penyelenggaraan praktikum ini menjadi bagian dari komitmen Program Studi Ilmu Seni dan Arsitektur Islam UIN Walisongo Semarang dalam memperkuat pembelajaran berbasis keterampilan, meningkatkan literasi teknologi digital, serta mempersiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan praktik arsitektur di era kecerdasan buatan. Melalui perpaduan penguasaan teknologi, kreativitas, dan nilai-nilai keilmuan Islam, mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan karya arsitektur yang inovatif, kontekstual, dan tetap berorientasi pada kebutuhan manusia.






